KH. Maman Imanulhaq, akrab disapa Kang Maman, lahir di Sumedang 8 Desember 1972 berasal dari keluarga religius, pasangan Drs. H.Abdurrochim dan Hj. Lalih Halimah.

Setelah lulus SDN 3 Cimalaka Tahun 1984, Kang Maman melanjutkan jenjang pendidikan di Madrasah Tsanawiyah (MTs) dan Madrasah Aliyah (MA) Baitul Arqom Bandung Jawa Barat sambil mondok di Pesantren Baitul Arqom hingga tahun 1990.

Selama enam tahun menempa ilmu di Ma’had Baitul Arqom, dengan kedisiplinan belajar, berorganisasi serta keahlian berbahasa telah membentuk kepribadian Kang Maman yang progressif, toleran, serta mempunyai kualitas spiritual yang penuh.

Selain di Baitul Arqom, Kang Maman melakoni silaturahmi ke beberapa Ulama besar dan pesantren di Pulau Jawa, seperti Ua Khoer Afandi Manonjaya Tasikmalaya, Mama Bantargedang, M’bah Dullah Salam di Kajen Pati Jawa Tengah, Kyai Mudzakir Pekalongan hingga mondok di Pesantren Tambak Beras, Jombang, Jawa Timur.

Tahun 1999, Kang Maman mendirikan Pondok Pesantren Al-Mizan di Jatiwangi, Majalengka, Jawa Barat. Hingga kini, selain pesantren, Al-Mizan mengembangkan lembaga-lembaga Pendidikan mulai dari TK, SDIT, MTs hingga SMA Islam dan SMK.

Melalui Pesantren Al-Mizan, Kang Maman terus aktif mengukuhkan spirit nasionalisme & kebangsaan serta menanamkan nilai-nilai keagamaan dan kepesantrenan yang humanis, damai & toleran yang menghargai perbedaan dan keberagaman kepada ratusan santri dan ribuan Jamaah Paguyuban Sholawat Akar Djati yang diasuhnya. Tokoh NU muda itu, terus aktif berdakwah menyebarkan Islam damai dan toleran yang rahmatan lil alamin.

Materi dakwahnya yang memperlihatkan pemihakan terhadap dhu’afa dan mustadh’afin, kepedulian pada ranah budaya lokal, merangkul kaum pinggiran (marginal) serta mensponsori kreativitas anak-anak muda, telah menjadikan sosok Kang Maman diterima oleh semua kalangan yang beragam.

Di samping aktif mengisi pengajian, Kang Maman rajin menghadiri diskusi-diskusi, Seminar, Worskhop, Halaqoh Budaya, kegiatan kesenian serta dialog lintas agama dan kepercayaan. Ia pun aktif di lembaga-lembaga masyarakat yang konsen pada isu-isu anti korupsi, transparansi anggaran serta kebijakan publik dan lingkungan hidup, seperti: Indonesia Corruption Watch (ICW), Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (KontraS), Pusat Studi Hukum dan Kebijakan (PSHK), Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia (YLBHI), Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI), Transparency Internasional Indonesia (TII), dan Konsorsium Pembaharuan Agraria (KPA).

Dengan ghiroh memperjuangkan maqashid syari’at Islam, yakni menegakkan nilai dan prinsip keadilan sosial, kemaslahatan umat manusia, kerahmatan semesta, dan kearifan lokal, Kang Maman aktif di dalam kajian pemikiran Islam progressive di Fahmina Institute Cirebon, Akademi Entrepreneur Al-Biruni Ciwaringin Yayasan Pendidikan Seni Nusantara Jakarta dan TGI (The Grage Institute).

Di tengah kekerasan dan diskriminasi atas nama agama dan kepercayaan yang mengungkung Indonesia, Kang Maman konsisten mendorong dan menyebarkan pluralisme, toleransi dan keberagaman. Ia kerapkali membela dan menyuarakan hak-hak kelompok agama minoritas yang diabaikan.

Pada Pemliu 2014, Kang Maman lolos menjadi Anggota DPR RI dari Daerah Pemilihan Jawa Barat IX. Ia pun terpilih sebagai salah satu “Calon Legislatif (Caleg) Bersih” atas diinisiasi lembaga-lembaga masyarakat yang konsen pada isu-isu anti korupsi, transparansi anggaran serta kebijakan publik dan lingkungan hidup, seperti: Indonesia Corruption Watch (ICW), Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (KontraS), Pusat Studi Hukum dan Kebijakan (PSHK), Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia (YLBHI), Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI), Transparency Internasional Indonesia (TII), dan Konsorsium Pembaharuan Agraria (KPA).

Tahun 2019, Kang Maman kembali lolos ke Senayan. Kini ia aktif sebagai anggota DPR RI Fraksi PKB di Komisi VIII yang membidangi: Agama, Sosial dan Pemberdayaan Perempuan. []