Jihad tertinggi adalah melawan kebodohan, kemiskinan, dan perpecahan

Jihad tertinggi adalah melawan kebodohan, kemiskinan, dan perpecahan

Bom kembali mengguncang. Kali ini ledakan bom bunuh diri terjadi di Polrestabes Medan, Sumatera Utara. Akibatnya, pelaku bom bunuh diri bernama Rabbial Muslim Nasution tewas dan 6 orang lainnya jadi korban luka. Peristiwa tersebut terjadi di Polrestabes Medan, Jalan HM Said, Medan, Rabu (13/11/2019), sekitar pukul 08.45 WIB.

Atas peristiwa itu kita turut prihatin. Bom di Polrestabes Medan itu mengindikasikan kuat jika ancaman terorisme dan radikalisme tidak main-main, nyata adanya.

Karena itu, kita perlu waspada & bekerja keras mengantisipasi gerakan-gerakan terorisme dan menangkal paham dan ideloginya agar tidak merasuki khususnya di kalangan anak muda.

Dalam hal ini perlu ada reinterpretasi makna jihad yang mendudukannya dalam konteks kemanusiaan dan kebangsaan. Dimana jihad tidak dimaknai sempit, tapi lebih luas yakni melawan kezdaliman, memberantas korupsi, mencegah kebakaran hutan, mengatasi kemiskinan, memperkuat solidaritas antar sesama dan lain-lain.

Dalam melawan terorisme dan radikalisme, para Ulama & Kyai memiliki tugas yang tidak ringan, yakni mengambil peran bagaimana mendorong pemahaman atau reinterpretasi jihad di medan-medan yang lebih kontekstual dan humanis sebagaimana diurai di atas.

Sebagaimana kita ketahui, sejak dulu, para Ulama memiliki berperan besar dalam membangun bangsa. Kalau dulu ulama berjihad dengan berjuang melawan penjajah, sekarang perjuangan ulama adalah memerangi kebodohan, kemiskinan, dan perpecahan.

Hari ini para ulama dan kiai mengajarkan jihad jitu lewat pendidikan. Makanya jihad tertinggi adalah bagaimana kita melawan kebodohan, kemiskinan, dan perpecahan.

Pendidikan karakter terus ditanamkan para ulama dengan modal nasionalisme. Hal itu sekaligus menegaskan bahwa jihad di era sekarang bukan pergi ke suatu medan perang yang sama saja dengan bunuh diri.

Yang diajarkan ulama itu adalah mencintai tanah air. Maka ada ucapan yang sangat terkenal yaitu hubbul wathon minal iman. Artinya mencintai tanah air dalam bentuk komitmen keimanannya.

Orang yang mengaku beriman dia akan mencintai tanah airnya. Kita tidak mungkin diadu domba, diprovokasi hoax, hate speech, fitnah, dan apapun di sosmed, karena kita tahu negeri ini didirikan dengan air mata, darah, perjuangan dan para ulama di dalamnya mempunyai andil besar.

Ulama tidak mengajarkan kekerasan, intimidasi, caci maki, fitnah, apalagi menghancurkan kemanusiaan. Para ulama harus konsisten berjuang untuk NKRI.

Seluruh masyarakat harus betul-betul paham bahwa Indonesia sudah punya Pancasila, Indonesia sudah punya bentuk NKRI, Indonesia sudah sepakat soal Bhinneka Tunggal Ika. Itu sudah lebih dari cukup buat negara ini.

Untuk menghadapi, paham-paham radikal, perlu terus mendorong komitmen nasionalisme agar terus dipertahankan, terutama kepada anak-anak muda. Kita tidak ingin seperti Suriah, Irak, Libya, Yaman, dan negara-negara Timur Tengah lainnya. Kita tidak ingin Indonesia tiba-tiba tercabik-cabik oleh ancaman tersebut.

Mari kita jaga bangsa dan negeri dari ancaman paham ideologi & gerakan terorisme dan radikalisme yang akan menghancurkan bangsa ini dengan terus menguatkan rasa cinta tanah air kita serta mengukuhkan ikatan solidaritas persaudaraan & kemanusiaan anak bangsa dengan menafikan perbedaan di antara kita.

Tinggalkan Balasan