Dakwah Yang Menyentuh

Dakwah Yang Menyentuh

Ade Duryawan
Ade Duryawan
Tenaga Ahli Anggota DPR

Pagi tadi saya berkesempatan berdiskusi banyak hal dengan Kiai Moh. Umar soal keagamaan & kebangsaan. Ini bukan kali pertama saya mendapat pencerahan dari sosok Kyai muda ini.

Dari awal saya yakin pondok pesantren bukan hanya menempa para santrinya dari segi keilmuan saja, tapi akhlak dan karakter sekaligus. Kedalaman & keluasan ilmu itu dengan sendirinya akan membentuk pada cara pandang yang lebih terbuka, toleran, lugas, moderat dan santun.

Itulah kesan yang saya tangkap dari sosok Kiai Umar Pengasuh Pondok Pesantren Mamba’ul Huda Cisambeng, Palasah, Majalengka. Alumni Pondok Pesantren Kebon Melati & Kebon Jambu Babakan Ciwaringin Cirebon asuhan Almaghfurlah KH. Muhammad (Akang). Kesan yang tidak jauh berbeda dari sosok Almaghfurlah Mama KH. Ghufron Shobur, Ayahnya. Kyai & guru yang pertama kali mengajarkan saya “alif ba ta” sewaktu menjadi santri Kalongnya.

Almaghfurlah. Mama KH. Gufron Shobur, Sambeng, adalah Dai dengan materi dakwah yang ringan namun mengena, dalam & luas. Materi dakwahnya tidak jauh dari seputar persoalan keseharian. Namun, disampaikan dalam bahasa Sunda dengan style retorika yang sederhana, khas & mengalir, sehingga menarik dan mudah dipahami oleh masyarakat awam.

Selain berdakwah, kala itu, tajug atau surau dan Madrasahnya menjadi sentral pendidikan agama bagi anak-anak di kampung saya, Cisambeng. Tidak hanya tempat mengaji & belajar agama, tapi tempat berjumpa, berkumpul, bercanda dan bermain dengan teman sebaya. Sungguh masa-masa yang membahagiakan.

Satu hal yang masih saya ingat adalah soal kebiasaan Mama KH. Gufron Shobur yang rajin berkeliling silaturahim mengunjungi satu persatu rumah-rumah warga tanpa alas kaki. Belakangan baru saya menyadari, itulah cara & strategi dakwah beliau agar bisa menyentuh langsung kepada masyarakat. Beliau menyerap, menanggapi sekaligus menyikapi berbagai persoalan serta isu-isu real & aktual baik itu agama, sosial, budaya, ekonomi maupun politik yang ada & muncul berkembang di tengah- tengah umat.

Kebiasaan yang sama dilakukan pula oleh Almaghfurlah Mama KH. Muhammad Qusaeri, Sambeng. Setiap hari Jum’at sebelum shalat Jum’atan, beliau rutin berkeliling ke rumah-rumah warga sambil membagi-bagikan uang receh kepada anak-anak yang dijumpainya.

Cara dakwah mereka ini mengingatkan saya pada prinsip dakwah Guru & Sahabat saya KH. Maman Imanul Haq : dakwah itu merangkul bukan memukul, mengajak bukan mengejek serta berargumen bukan sentimen.

Itulah dakwah bersahaya yang menyentuh. Rendah hati. Penuh dengan kearifan.

ALFATIHAH

untuk para Kiai guru-guru kita.

Tinggalkan Balasan